Piljatim

Lebih Dekat Dengan Anna Muawanah

Bojonegoro – Sosok Anna Muawanah menjadi magnet perhatian dari berbagai pihak setelah memutuskan ikut berkompetisi di Pilkada Bojonegoro 2018 meski harus rela melepas posisinya sebagai anggota DPR RI di komisi XI. Tak mudah berjuang agar bisa duduk menjadi anggota legislatif selama tiga periode jika tak mendapatkan kepercayaan dari rakyat Bojonegoro. Selama itu pula sosok Anna Muawanah sudah terbiasa berkeliling dari Desa ke Desa untuk menyerap aspirasi masyarakat untuk dibawa ke gedung DPR RI.

Kedekatan Anna Muawanah dengan masyarakat salah satunya terlihat dari kedekatannya dengan tokoh komunitas Samin di Dusun Jipang Kecamatan Margomulyo, Mbah Hardjo Kardi. Dari kedekatan tersebut berhasil mewujudkan pengembangan peternakan sapi dari bantuan pada tahun 2011. Dari bantuan tersebut dibantu dengan semangat gotong royong masyarakat Samin yang terkenal jujur mampu membangun kadang sapi permanen seluas lebar 6 meter panjang 30 meter.

Dedikasi sosok Anna Muawanah dalam politik mampu memberi warna tersendiri didukung dengan pengalamannya yang panjang. Karena alasan tersebutlah tim redaksi jatimpos.com memutuskan untuk melakukan wawancara dengan Anna Muawanah. Berikut petikan wawancara jatimpos.com dengan Anna Muawanah pada tanggal 8 hari Kamis pukul 20.00 WIB di kediamannya Bojonegoro setelah pulang dari sebuah acara :

 

Selamat malam bu, bagaimana kabarnya ?

Baik. Alhamdulillah selalu menyenangkan jika sudah bertemu dengan masyarakat Bojonegoro yang ramah dan terbuka.

Ini habis dari acara pertemuan bu ?

Iya saya diminta datang di sebuah acara dan Alhamdulillah makin banyak bersilaturahmi makin banyak dukungan.

Dukungan ?

Iya anda tahu sendirilah dukungan seperti apa.

Sepertinya ibu tak pernah capek padahal jadwalnya begitu padat …

Bukan tidak pernah capek tapi energi berbagi kebahagian dengan orang lain memberikan dampak energi positif bagi saya dan orang lain. Bahagia itu tak akan habis jika dibagi bahkan makin berkembang biak. Kalau untuk diri sendiri kan berhenti di diri kita sendiri tapi kalau bisa dinikmati banyak orang makin baik dan menyebar. Adakah jenis kebahagian yang mampu ditundukkan dengan rasa capek ? saya pikir kok ndak ada kalau sudah berbagi kebahagiaan.

Lalu bagaimana ibu membagi waktu dengan keluarga di tengah padatnya kesibukan ?

Saya selalu berkomunikasi dengan suami dan berbagi tugas dalam keluarga. Anak-anak saya sudah besar jadi sudah mengerti kesibukan orang tuanya, tapi meski sibuk kami kenal lho siapa saja teman anak-anak kami.

Anak-anak kelas berapa ?

Anak pertama sedang menyelesaikan master, anak kedua kuliah dan anak terakhir masih SMA.

Apa harapan ibu untuk anak-anak ?

Menjadi diri sendiri dengan rasa tanggungjawab dan yang paling penting bagi mereka adalah soal akidah, ini prinsip keluarga kami.

Oh.. ya bu, boleh diceritakan pertemuan pertama dengan bapak kapan ?

Hehehehehe… ini mengenang masa lalu maksudnya ? Seingat saya bapak itu temannya teman saya. Waktu itu pertemuannya semasa masih kuliah jaman alat komunikasi masih pakai pager sebelum hape banyak seperti sekarang.

Kenangan apa yang masih teringat hingga kini ?

Bapak itu kan pinter kalau soal statistik, makanya saat kuliah dulu suka minta tolong untuk ngajarin. Jadi waktu kuliah bapak banyak jasanya, ngajarin saya statistik…hehehehe…

Bisa diceritakan bu awal-awal perjuangan membangun keluarga ?

Begitu di awal-awal menikah, kami masih pijem rumah milik keluarga di Jakarta karena belum bisa beli rumah sendiri. Dari situlah saya mulai belajar memasak secara serius sebagai ibu rumah tangga.

Usia pernikahan ibu sudah berapa tahun ?

Sudah 26 tahun

Jika ada kehidupan yang kedua dan dilahirkan kembali, ibu ingin memilih anak dan suami seperti apa ?

Ya seperti ini, karena Ini adalah keluarga terbaik bagi saya.

Punya keluarga di Bojonegoro kah ?

Waktu kecil bapak saya sering mengajak ke Bojonegoro naik kereta klutuk, yang pakai tenaga kayu bakar itu lho… ke rumahnya mbah Harun bapak dari ibu saya di Panjunan Kalitidu. Kalau dari bapak ada canggah saya orang Padangan namanya Kyai haji Ma’ruf yang menikah dengan orang Jambangan Jatirogo namanya Mbah Mi.

Masih ada keluarga di Bojonegoro yang masih hidup ?

Hampir di tiap Kecamatan ada keluarga diantaranya di Malo, Sumberrejo, Kalitidu, dan Padangan. Banyak keluarga di Bojonegoro…

Bisa diceritakan masa kecil saat ibu sekolah ?

Pagi hari saya sekolah di SD Negeri, sore harinya ngaji di Diniyah..

Masih ingat dengan guru di SD dan Diniyah bu ?

Pak puspito guru SD yang ngayomi semua murid-muridnya. Saya termasuk sering ditanya sudah sarapan atau belum, jika belum langsung dikasih uang untuk beli getuk. Beliau ini punya sepeda motor Zundapp (merk sepeda motor buatan jerman-red) dan biasa untuk memboncengkan murid-muridnya saat berangkat sekolah atau pulang. Kami murid-muridnya selalu menunggu saat beliau bercerita atau berdongeng di depan kelas, dengan cerita membawa imajinasi kami untuk selalu berbuat baik. Selalu ada pesan-pesan baik saat pak Puspito mendongeng. Beliau itu Guru yang rendah hati dan ngopeni muridnya… beliau itu dermawan dan humanis. (saat menceritakan sosok guru ini mata bu Anna menerawang dan berkaca-kaca tapi segera ditutupi)

Kalau guru Diniyah bu ?

Namanya Pak Zabidin biasa mengajar sorof. Seorang guru yang disiplin meski tanpa gaji dan dari beliaulah saya belajar banyak soal menghargai waktu.

Anna Muawanah bersama siswa diatas jembatan rusak

Jika diamanahi menjadi Bupati apa yang ibu lakukan untuk para guru ?

Saya terinspirasi dengan para guru Diniyah yang penuh ke-ikhlasan dalam mengajar. Begitu ikhlas karena menganggap mengajar itu jihad untuk memerangi kegelapan fikiran, sebab kegelapan fikiran itu lebih berbahaya. Dulu waktu belajar di Diniyah masih pakai sabak belum ada buku tulis seperti sekarang. Sekali menulis di sabak jika penuh langsung dihapus untuk digunakan kembali menulis jadi mengandalkan ingatan. Guru diniyah itu membentuk pendidikan berkarakter bagi anak didik maka perlu sentuhan dari Pemerintah Daerah berupa insentif bagi mereka.

Kalau teman sekolah masih ingat bu ?

Ini ada kejadian yang lucu teman saya MTS namanya Sukmawati yang sekarang tinggal di Mulyoagung pernah menulis cita-cita ingin bupati. Saat bertemu beberapa waktu lalu teman saya ini bilang bahwa sayalah yang meneruskan cita-citanya sejak kecil itu. Sukmawati ini salah satu sahabat sekolah saya yang akrab.

Oh ya bu… menurut ibu, Bojonegoro itu seperti apa sih ?

Bojonegoro itu penuh warna dan potensi alam serta pertaniannya patut dikembangkan.

Sudah berapa desa dikunjungi Bu ?

Sudah semua desa saya kunjungi sejak menjadi anggota DPR RI hingga sekarang.

Sebenarnya apa yang dibutuhkan desa-desa tersebut bu ?

Infrastruktur jalan yang masih belum banyak perubahan dan irigasi pertanian di kawasan selatan yang kering. Lalu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di desa-desa itu penting sekali agar kelak para pemuda desa tak perlu jauh-jauh mencari pekerjaan. Cukup di desa mereka sudah bisa bekerja dan berusaha.

Pertanyaan terakhir bu, sebenarnya membantu tidak pengalaman ibu menjadi anggota DPR RI jika kelak terpilih menjadi Bupati ?

Saya di Komisi XI DPR RI yang membidangi soal Keuangan dan Perbankan. Kalau mitra kerja diantaranya Menteri Keuangan, BAPPENAS, BPKP, BPS, BPK, Bank Indonesia, OJK, LPS dan lainnya. Dari situlah bisa kita lakukan sinergitas kebijakan dan net working untuk membangun Bojonegoro kelak.

Terima kasih waktunya bu

Sama-sama. Mainlah kesini kalau longgar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *