Umum

INBOX SCTV Euforia Prematur Di Rembang

Sepanjang sejarah, Rembang baru kali ini ramai masuk televisi swasta nasional. Sebuah peristiwa baru di kota kecil pinggiran timur Propinsi Jawa Tengah. Kota Kecil yang angka kemiskinannya nomor 5 dari bawah se-Jawa Tengah.

Dengan “nanggap” INBOX SCTV pada tanggal 21-22 April 2018, menghabiskan anggaran yang tidak sedikit bagi kota kecil yang baru merangkak ingin memberdayakan masyarakatnya untuk menekan angka kemiskinan. Banyak anak sekolah yang diwajibkan untuk melihat pertunjukkan yang katanya keren itu. Tidak hanya anak sekolah, OPD Se-kabupaten Rembang juga diwajibkan menonton hingar bingar tersebut melalui surat resmi berkop Sekretariat Daerah dengan tanda tangan atas nama Bupati Rembang.

Tidak jelek tentunya. Tinggal kacamata apa yang digunakan untuk melihatnya. Kalau memakai kacamata kuda mungkin bagus, namun tidak ketika menggunakan kacamata selain kacamata kuda.

Di hari yang mensejarah memperingati spirit Kartini, mungkin harapannya dengan “nanggap” INBOX di alun-alun Rembang kali pertama ini bisa dikenal masyarakat Indonesia bahkan dunia. Sebab, disela-sela tayangan INBOX ada selingan gambar beberapa obyek wisata Kabupaten Rembang yang masih seumur jagung, umur yang belum baligh untuk disunat dan mengeluarkan janin. Wisata Rembang masih perlu penanganan serius, pun tata kelola kota juga mindset masyarakat tentang kesadaran atas budayanya.

Dengan “kekerenan” yang mungkin sebagian orang menganggapnya joss gandos tentang tayangan live INBOX SCTV dalam memperingati ibu bangsa di Rembang, masih terlalu dini untuk mengenalkan Rembang ke kancah Nasional maupun manca negara. Bukan berarti haram nanggap INBOX, namun masih banyak yang perlu dibenahi sebelum membusungkan dada memperlihatkan iga-iganya.

Apalagi momentum yang kurang tepat di acara memperingati hari Kartini. Hari yang penuh makna untuk perenungan dan refleksi diri, hari yang mensejarah dan hari yang sakral untuk peningkatan spirit masyarakat.

Garap yang serius saja dulu kekuatan local wisdomnya, obyek wisatanya, peningkatan ekonominya, budayanya,  juga mindset (pola pikir) masyarakatnya melalui event-event yang bersahaja, egaliter dan merakyat. Lakukan pemberdayaan dan peningkatan kesadaran kritis atas perkembangan yang ada, dan kuatkan dulu hubungan sosial kemasyarakatan. Setelah itu baru kemudian mengenalkan Rembang kepada dunia. Masalah teknis mudah saja dilakukan kalau memang ada niat, keseriusan dan tanpa adanya embel embel kepalsuan. Meskipun ada embel-embelnya, ya mbok jangan segitunya, kalau tidak ingin ada kekecewaan yang mendalam ketika orang datang ke Rembang atas dasar promosi yang kemungkinan terjeleknya tidak terfikirkan.

Semoga Rembang akan lebih baik dan semoga di hari Kartini ini membawa perubahan pemikiran yang lebih baik. Aku langitkan doa dan semoga langit memberkatinya. Amin!

 

 

Abdul Chamim (Pelukis, Pemilik Gentong Miring Art Gallery Sluke  Rembang)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *